Rabu, 08 September 2010

Ke Jakarta ; 30 Juli 2010

Tanggal 30 Juli 2010, q meninggalkan kota solo, pergi ke jakarta dengan seribu satu harapan besar. Memang, ketika q berangkat nampak semuanya berbeda. Bahkan, hari-hari menjelang saya pergi, semua nya nampak berbeda, ingin melihat suasana kamar yang belum ada perubahan, dan melihat suasana ruang keluarga yang pasti saya rindukan, pikirku saat itu.

Berangkat dengan beberapa teman, menunggu di terminal bis bersama ayah, ibu dan teman-teman menambah rasa debar-debar membayangkan hidup sendiri di kota metropolitan itu, Jakarta. Sendiri? tidak, sebenarnya q tidak sendiri, namun akan terasa sendirian ketika q mengingat senyum dan kehangatan bersama keluarga. Sebenarnya q didampingi banyak teman, teman dari asal sekolah yang sama, teman yang dapat q handalkan setiap saat. Dari sini lah q mulai mengerti arti sebuah pertemanan, siapa dia, siapa ia, siapa mereka, dan siapa saya, walaupun tidak sepenuhnya mengerti siapa mereka semua, namun cukup membuatq tidak merasa sendirian.

Kembali pada keadaan q pertama menginjakan kaki di Jakarta tanpa kedua orang tua.
Awalnya terasa asing dengan kota yang bising itu, kota itu memberikan banyak pelajaran dalam hidup. Sebenarnya ketika memulai memasuki kota itu, sudah terblesit ribuan harapan besar dibenakq, namun belum tau kapan bisa merealisasikan semua harapan itu.

Kebetulan waktu itu, q belum akrab dengan teman sekamar, merasa tidak enak hati karena harus menumpang dan mempersempit luas kamarnya. Namun saya sadar, hal ini salah satu bentuk saling membantu antar teman, memang saya tidak dapat membalas bantuannya sekarang, namun suatu saat mungkin ada kesempatan untuk membalasnya.
oiya q belum bercerita, kenapa q menumpang? q kuliah di FKUI, sedangkan waktu ospek membutuhkan waktu 1 bulan di depok, tempat FKUI berpusat di Salemba, oleh karena tidak mendapatkan tempat kos yang menerima selama 1 bulan saja, oleh karena itu menumpang di kos temen, alhasil dia mengijinkan.

Hari demi hari berlalu, q ngerasaain kedekatan dengan teman sekamar, bahkan tidak hanya teman sekamar saja. Memang keadaan saling bertemu tiap hari, berbagi cerita, tolong menolong, tertawa bersama hingga bersedih bersama menambah kedekatan kami.
bersedih bersama? ya rasa sedih itu ada ketika teman sekamarku harus diterima di stan dan meninggalkan kosan. hmm, memang terasa egois ketika q menyayangkan dia dtrima di stan, namun q tetap ngerasa seneng, ngeliat dia seneng n ngedapetin apa yang di pengenin, walaupun ini masih tahap awal dalam pencapaian cita-citanya.

Q pikir tidak masalah bila kita berbeda tempat, namun hubungan komunikasi kami tetap lah terjaga, selayaknya adik dan kakak, kami masih sering bertanya kabar dan "guyon bareng" walaupun hanya via telepon.

Jakarta memang membuatku menambahkan 1 teman baik. lagi :)

1 komentar: