Q udah nyritain dari entri sebelumnya, kalau temen sekamar ku pindah ke stan, alhasil q juga harus pindah kamar, memang gini nasib menumpang, hehe
ketika temen sekamarq yang lama udah pulang, q jadi pindah kamar di kamar sebelah, bersama temen 1 sekolah juga. Bisa kita sebut dengan nama X. Q pindah ke kamarnya, lagi-lagi ngerasa enggak enak mengusik ketenangan orang, tapi mau gimana lagi, dia enggak ada masalah dan welcome-welcome aja, jujur waktu itu q ngerasa berterima kasih banget, soalnya dari SMA sebenarnya kita enggak deket namun di sana kita jadi deket.
si X udah q anggep mami q disana, gimana enggak, tiap hari ngebangunin n masakin nasi, dia udah berpengalaman banget soal ngekos-ngekos gini, dari SMP dia udah ngekos sendiri, walaupun kita sama-sama anak terakhir, tapi dia terlihat lebih mandiri, karena pengalamannya ngekosnya udah lumayan banyak.
Enggak hanya bangunin tiap saur, tapi sering kali ngebikinin susu buat q, memang dia temen yang baik, walaupun kami tidak terlalu dekt awalnya. Pernah menemaniku ke stasiun, padahal dia baru aja pulang dari kampus, dan q nyadar banget dia dalam keadaan capek, tapi q enggak nyangka dia menawarkan diri menemani ke stasiun dalam keadaam malam hari dan gerimis hujan.
Berharap tidak menyusahkannya trs dan selalu belajar hidup mandiri, memang tidak dapat dipungkiri kalo dia udah ngajarin aku banyak hal. Jarang menemukan teman sepertinya. Terima kasih teman. Berharap dapat bertemu mu lagi. :)
Rabu, 08 September 2010
Ke Jakarta ; 30 Juli 2010
Tanggal 30 Juli 2010, q meninggalkan kota solo, pergi ke jakarta dengan seribu satu harapan besar. Memang, ketika q berangkat nampak semuanya berbeda. Bahkan, hari-hari menjelang saya pergi, semua nya nampak berbeda, ingin melihat suasana kamar yang belum ada perubahan, dan melihat suasana ruang keluarga yang pasti saya rindukan, pikirku saat itu.
Berangkat dengan beberapa teman, menunggu di terminal bis bersama ayah, ibu dan teman-teman menambah rasa debar-debar membayangkan hidup sendiri di kota metropolitan itu, Jakarta. Sendiri? tidak, sebenarnya q tidak sendiri, namun akan terasa sendirian ketika q mengingat senyum dan kehangatan bersama keluarga. Sebenarnya q didampingi banyak teman, teman dari asal sekolah yang sama, teman yang dapat q handalkan setiap saat. Dari sini lah q mulai mengerti arti sebuah pertemanan, siapa dia, siapa ia, siapa mereka, dan siapa saya, walaupun tidak sepenuhnya mengerti siapa mereka semua, namun cukup membuatq tidak merasa sendirian.
Kembali pada keadaan q pertama menginjakan kaki di Jakarta tanpa kedua orang tua.
Awalnya terasa asing dengan kota yang bising itu, kota itu memberikan banyak pelajaran dalam hidup. Sebenarnya ketika memulai memasuki kota itu, sudah terblesit ribuan harapan besar dibenakq, namun belum tau kapan bisa merealisasikan semua harapan itu.
Kebetulan waktu itu, q belum akrab dengan teman sekamar, merasa tidak enak hati karena harus menumpang dan mempersempit luas kamarnya. Namun saya sadar, hal ini salah satu bentuk saling membantu antar teman, memang saya tidak dapat membalas bantuannya sekarang, namun suatu saat mungkin ada kesempatan untuk membalasnya.
oiya q belum bercerita, kenapa q menumpang? q kuliah di FKUI, sedangkan waktu ospek membutuhkan waktu 1 bulan di depok, tempat FKUI berpusat di Salemba, oleh karena tidak mendapatkan tempat kos yang menerima selama 1 bulan saja, oleh karena itu menumpang di kos temen, alhasil dia mengijinkan.
Hari demi hari berlalu, q ngerasaain kedekatan dengan teman sekamar, bahkan tidak hanya teman sekamar saja. Memang keadaan saling bertemu tiap hari, berbagi cerita, tolong menolong, tertawa bersama hingga bersedih bersama menambah kedekatan kami.
bersedih bersama? ya rasa sedih itu ada ketika teman sekamarku harus diterima di stan dan meninggalkan kosan. hmm, memang terasa egois ketika q menyayangkan dia dtrima di stan, namun q tetap ngerasa seneng, ngeliat dia seneng n ngedapetin apa yang di pengenin, walaupun ini masih tahap awal dalam pencapaian cita-citanya.
Q pikir tidak masalah bila kita berbeda tempat, namun hubungan komunikasi kami tetap lah terjaga, selayaknya adik dan kakak, kami masih sering bertanya kabar dan "guyon bareng" walaupun hanya via telepon.
Jakarta memang membuatku menambahkan 1 teman baik. lagi :)
Berangkat dengan beberapa teman, menunggu di terminal bis bersama ayah, ibu dan teman-teman menambah rasa debar-debar membayangkan hidup sendiri di kota metropolitan itu, Jakarta. Sendiri? tidak, sebenarnya q tidak sendiri, namun akan terasa sendirian ketika q mengingat senyum dan kehangatan bersama keluarga. Sebenarnya q didampingi banyak teman, teman dari asal sekolah yang sama, teman yang dapat q handalkan setiap saat. Dari sini lah q mulai mengerti arti sebuah pertemanan, siapa dia, siapa ia, siapa mereka, dan siapa saya, walaupun tidak sepenuhnya mengerti siapa mereka semua, namun cukup membuatq tidak merasa sendirian.
Kembali pada keadaan q pertama menginjakan kaki di Jakarta tanpa kedua orang tua.
Awalnya terasa asing dengan kota yang bising itu, kota itu memberikan banyak pelajaran dalam hidup. Sebenarnya ketika memulai memasuki kota itu, sudah terblesit ribuan harapan besar dibenakq, namun belum tau kapan bisa merealisasikan semua harapan itu.
Kebetulan waktu itu, q belum akrab dengan teman sekamar, merasa tidak enak hati karena harus menumpang dan mempersempit luas kamarnya. Namun saya sadar, hal ini salah satu bentuk saling membantu antar teman, memang saya tidak dapat membalas bantuannya sekarang, namun suatu saat mungkin ada kesempatan untuk membalasnya.
oiya q belum bercerita, kenapa q menumpang? q kuliah di FKUI, sedangkan waktu ospek membutuhkan waktu 1 bulan di depok, tempat FKUI berpusat di Salemba, oleh karena tidak mendapatkan tempat kos yang menerima selama 1 bulan saja, oleh karena itu menumpang di kos temen, alhasil dia mengijinkan.
Hari demi hari berlalu, q ngerasaain kedekatan dengan teman sekamar, bahkan tidak hanya teman sekamar saja. Memang keadaan saling bertemu tiap hari, berbagi cerita, tolong menolong, tertawa bersama hingga bersedih bersama menambah kedekatan kami.
bersedih bersama? ya rasa sedih itu ada ketika teman sekamarku harus diterima di stan dan meninggalkan kosan. hmm, memang terasa egois ketika q menyayangkan dia dtrima di stan, namun q tetap ngerasa seneng, ngeliat dia seneng n ngedapetin apa yang di pengenin, walaupun ini masih tahap awal dalam pencapaian cita-citanya.
Q pikir tidak masalah bila kita berbeda tempat, namun hubungan komunikasi kami tetap lah terjaga, selayaknya adik dan kakak, kami masih sering bertanya kabar dan "guyon bareng" walaupun hanya via telepon.
Jakarta memang membuatku menambahkan 1 teman baik. lagi :)
setelah vakum
2 bulan lamanya aku vakum dari dunia blog, merasa tidak sempat atau rasa malas untuk menuliskan ini itu membuatku enggan mencoba berbicara dengan blogq yang satu ini.
Untuk pertama kalinya setelah aku masuk ke bangku kuliah dan mencoba menulis ini itu lagi. 2 bulan yang lalu aku memang dalam keadaan benar-benar libur, berbeda dengan hari ini dan beberapa bulan kedepan. Menyempatkan waktu menulis itu akan q biasakan lagi.
oke, mencoba menguraikan satu demi satu perjalanan ku selama 2 bulan ini, yang tidak sempat aku tuangkan dalam tulisan di blog ini.
Untuk pertama kalinya setelah aku masuk ke bangku kuliah dan mencoba menulis ini itu lagi. 2 bulan yang lalu aku memang dalam keadaan benar-benar libur, berbeda dengan hari ini dan beberapa bulan kedepan. Menyempatkan waktu menulis itu akan q biasakan lagi.
oke, mencoba menguraikan satu demi satu perjalanan ku selama 2 bulan ini, yang tidak sempat aku tuangkan dalam tulisan di blog ini.
Langganan:
Postingan (Atom)